Langsung ke konten utamaFasaha

Arti Insya Allah, Masya Allah, Habibi yang Sebenarnya

Insya Allah, masya Allah, habibi dan alhamdulillah: arti harfiah masing-masing, kapan penuturnya memakainya, dan tata bahasa yang sering terlewat.

· Ditulis oleh Amaan

Apa arti harfiah insya Allah dan masya Allah, dan apa bedanya?

Insya Allah, إِنْ شَاءَ ٱللَّٰه, adalah kalimat syarat tiga kata: jika Tuhan menghendaki. Ungkapan ini menunjuk ke depan, ke hal yang belum terjadi. Masya Allah, مَا شَاءَ ٱللَّٰه, berarti apa yang telah Tuhan kehendaki; fi'ilnya lampau, jadi ungkapan ini menunjuk ke hal baik yang sudah ada. Bahasa Indonesia memakai masya Allah lebih luas, juga untuk heran dan terkejut.

Insya Allah menunjuk ke depan dan masya Allah menunjuk ke belakang. Yang satu diucapkan tentang sesuatu yang belum pasti; yang lain ketika melihat sesuatu yang sudah terjadi dengan baik.

Sebagian besar dari ungkapan ini bukan kata tunggal. إِنْ شَاءَ ٱللَّٰه terdiri dari tiga kata — jika, menghendaki, Tuhan — sehingga belajar memecahnya kira-kira melipatgandakan tiga kali kosakata yang sudah Anda miliki.

Habibi adalah akar kata ح ب ب ditambah akhiran kepemilikan ـِي, dan akhiran yang sama menghasilkan rabbī, ummī dan akhī. Dua fakta kecil membuat banyak sekali kata menjadi jelas.

KBBI mencatat insya Allah, masya Allah, alhamdulillah, dan astagfirullah sebagai kata bahasa Indonesia, dengan makna yang sudah bergeser: masya Allah juga untuk heran, sayang, dan keterkejutan, dan astagfirullah juga untuk heran bercampur sedih.

Yang Anda miliki adalah ungkapan utuh tanpa tata bahasa yang memecahnya. Separuh yang hilang itu nyata, dan itu juga separuh yang murah.

Ungkapan ini sudah lama menjadi bahasa Indonesia

Anda mungkin mengucapkan insya Allah ketika berjanji, alhamdulillah ketika ada kabar baik, bismillah sebelum makan, dan assalamualaikum ketika masuk rumah. Ini bukan pinjaman baru dari film atau media sosial. Bahasa Arab memperkaya kosakata bahasa Indonesia lewat pengaruh agama dan interaksi budaya selama berabad-abad, dan KBBI mencatat insya Allah, masya Allah, alhamdulillah, dan astagfirullah sebagai kata bahasa Indonesia.

Karena sudah lama hidup dalam bahasa Indonesia, ungkapan-ungkapan ini juga berkembang dengan caranya sendiri. KBBI mendefinisikan insya Allah sebagai ungkapan untuk menyatakan harapan atau janji yang belum tentu dipenuhi. Masya Allah dicatat sebagai kata seru untuk menyatakan perasaan heran, sayang, dan keterkejutan, dan astagfirullah juga sebagai seruan untuk menyatakan rasa heran bercampur sedih. Dalam bahasa Arab, pembagian kerjanya lebih ketat, dan di situlah letak pembeda yang berguna.

Yang jarang dilakukan adalah memecahnya. Anda tahu kapan mengucapkan insya Allah, tetapi mungkin belum pernah memperhatikan bahwa إِنْ شَاءَ ٱللَّٰه adalah tiga kata, dan bahwa bedanya dengan مَا شَاءَ ٱللَّٰه hanya terletak pada kata pertama. Perdebatan soal ejaan Latinnya, insya Allah atau insha Allah, tidak mengubah apa pun di sini: NU Online mencatat bahwa sy adalah ejaan bahasa Indonesia dan sh ejaan luar, dan keduanya merujuk pada huruf ش yang sama.

Jadi yang Anda butuhkan bukan terjemahan. Yang Anda butuhkan adalah aturannya: kapan mengucapkan yang mana.

Insya Allah menunjuk ke depan

إِنْ شَاءَ ٱللَّٰه terdiri dari tiga kata, bukan satu: إِنْ (in, “jika”), شَاءَ (shāʼa, “dia menghendaki”), ٱللَّٰه (Allāh, “Tuhan”). Secara harfiah, jika Tuhan menghendaki. Secara tata bahasa, ini adalah anak kalimat syarat yang akibatnya dibiarkan tak terucap, karena akibatnya adalah apa pun yang baru saja Anda bicarakan.

Struktur itu memberi tahu Anda dengan tepat kapan ungkapan ini dipakai: tentang sesuatu yang belum pasti. Sampai jumpa besok, insya Allah. Operasinya akan berjalan lancar, insya Allah. Ungkapan ini melekat pada masa depan yang tidak Anda kendalikan, yang dalam praktiknya berarti setiap masa depan.

Di Indonesia, insya Allah punya reputasi sendiri, dan KBBI ikut mencatatnya: harapan atau janji yang belum tentu dipenuhi. Pembacaan itu memang ada, tetapi itu pemakaian, bukan arti kata-katanya. Orang tua yang mengatakan insya Allah kepada anak yang minta dibelikan mainan mungkin saja bermaksud tidak, persis seperti ketika ia berkata “lihat nanti”. Keduanya bukan apa yang dikatakan oleh kata-katanya.

Jika diucapkan apa adanya, ungkapan ini sama sekali bukan dalih. Ini adalah komitmen dengan syarat yang melekat, dan syaratnya adalah dunia ikut bekerja sama.

Masya Allah menunjuk ke belakang

مَا شَاءَ ٱللَّٰه juga terdiri dari tiga kata: مَا (mā, “apa”), شَاءَ (shāʼa, “menghendaki”), ٱللَّٰه. Apa yang telah Tuhan kehendaki. Fi'ilnya berbentuk lampau, dan satu fakta itulah seluruh pembeda yang dicari orang. Insya Allah diucapkan tentang apa yang belum terjadi. Masya Allah diucapkan tentang apa yang sudah terjadi.

Dalam pemakaian Arab, ungkapan ini diucapkan ketika melihat sesuatu yang baik: anak yang sehat, rumah yang sudah selesai, hasil kerja seseorang, wajah seseorang. Tetapi ungkapan ini mengemban tugas kedua yang disembunyikan oleh terjemahannya. Di sebagian besar dunia berbahasa Arab, kekaguman yang terang-terangan terasa tidak nyaman jika berdiri sendiri, karena dikaitkan dengan mata jahat — الْعَيْن, pandangan yang iri. Masya Allah adalah yang membuat pujian menjadi aman. Ungkapan ini menyandarkan hasilnya kepada Tuhan, bukan menginginkannya.

Di sinilah pemakaian Indonesia dan Arab sedikit berpisah. Karena KBBI juga mencatat masya Allah untuk heran, sayang, dan keterkejutan, dalam bahasa Indonesia ungkapan ini bisa terdengar ketika melihat hal yang mengejutkan atau disayangkan. Dalam bahasa Arab, pegang arah waktu dan isinya: sesuatu yang sudah ada, dan baik. Di sana, pujian tanpa tambahan apa pun bisa terbaca sebagai tatapan yang tidak disandarkan kepada siapa pun. Masya Allah bukan hiasan pada pujian; ungkapan itulah bagian yang mengatakan bahwa Anda bermaksud baik.

Habibi adalah akar kata dan akhiran, dan Anda bisa melihat keduanya

حَبِيبِي terpecah menjadi dua bagian yang akan bermanfaat bagi Anda selama bertahun-tahun. Akar katanya adalah ح ب ب, yang membawa gagasan cinta. Masukkan ke dalam wazan فَعِيل dan Anda mendapatkan حَبِيب, ḥabīb, “kekasih”. Tambahkan akhiran ـِي, -ī, “-ku”, dan jadilah habibi: kekasihku.

Tidak satu pun dari kedua bagian itu hanya sekali pakai. Akar kata yang sama menghasilkan حُبّ (ḥubb, cinta), مَحْبُوب (maḥbūb, dicintai atau populer), أَحْبَاب (aḥbāb, orang-orang tercinta). Akhiran ـِي yang sama menghasilkan رَبِّي (rabbī, Tuhanku), أُمِّي (ummī, ibuku), أَخِي (akhī, saudaraku), اِسْمِي (ismī, namaku). Dua fakta kecil, dan banyak sekali kata berhenti menjadi kabur.

Tentang pemakaiannya: habibi diucapkan oleh laki-laki kepada teman laki-laki, oleh ibu kepada anak, oleh pemilik toko kepada orang asing, dan oleh hampir setiap penyanyi pop Arab yang masih hidup. حَبِيبْتِي, habibti, adalah bentuk yang ditujukan kepada perempuan. Kata ini lebih hangat daripada sapaan “bro” dan jauh lebih ringan daripada “sayang” dalam bahasa Indonesia. Seperti setiap kata yang hangat, kata ini bisa dibalik: “dengar, habibi” di awal kalimat biasanya berarti penuturnya akan membantah Anda.

  • ح ب ب — ḥubb (cinta), ḥabīb (kekasih), maḥbūb (populer), aḥbāb (orang-orang tercinta)
  • س ل م — salām (damai), islām (penyerahan diri), muslim (orang yang berserah diri), sallama (dia memberi salam)
  • ح م د — ḥamd (pujian), al-ḥamdu lillāh (segala puji bagi Tuhan), dan nama-nama Muḥammad, Aḥmad dan Maḥmūd

Sebagian besar yang Anda ketahui adalah frasa, dan frasa bisa dipecah

Hitunglah ungkapan Arab yang Anda pakai sehari-hari, dan daftarnya bisa mencapai puluhan, belum lagi kata serapan seperti kitab, ilmu, dan waktu. Pecahlah ungkapan-ungkapan itu dan jumlah katanya kira-kira menjadi tiga kali lipat, karena hampir setiap ungkapan adalah dua atau tiga kata yang melebur menjadi satu di telinga.

بِسْمِ ٱللَّٰه adalah bi- (“dengan”) ditambah ism (“nama”) ditambah Allāh. اَلْحَمْدُ لِلَّٰه adalah al-ḥamd (“pujian”) ditambah li- (“bagi, untuk”) ditambah Allāh. جَزَاكَ ٱللَّٰهُ خَيْرًا — semoga Tuhan membalas Anda dengan kebaikan — adalah fi'il, kata ganti objek, subjek dan keterangan manshub, yaitu sebuah pelajaran tata bahasa yang selama ini Anda bawa di saku tanpa pernah dibuka.

Bagian-bagian yang terlepas justru bagian yang paling sering dipakai bahasa Arab: bi-, li-, kata sandang takrif al-, akhiran kata ganti. Inilah kata-kata fungsi, dan kata-kata ini adalah kosakata paling bernilai dalam bahasa itu justru karena tidak menarik. Isim memberi tahu Anda pokok sebuah kalimat. Kata-kata ini memberi tahu Anda apa yang dinyatakan kalimat itu.

Apa yang Anda miliki, dan apa yang masih kurang

Ada baiknya bersikap tepat tentang besarnya modal awal ini, karena modal itu nyata dan juga sempit.

Anda memiliki puluhan ungkapan, masing-masing dengan situasi yang terpaku padanya, ditambah kata serapan yang Anda pakai tanpa berpikir. Jika Anda pernah mengaji, Anda juga sudah bisa membaca huruf hijaiyah berharakat. Itu penting karena satu alasan khusus: teks Arab pertama yang Anda baca dengan sungguh-sungguh sudah akan dipenuhi kata yang akrab. Menempelkan makna pada kata yang sudah bisa Anda ucapkan adalah versi termudah dari pekerjaan itu.

Yang biasanya belum Anda miliki adalah tata bahasa yang memecah ungkapan menjadi kata dan menggabungkan kata menjadi kalimat baru. Itulah separuh yang hilang. Itu juga separuh yang murah: daftar pendek kata fungsi berbuat lebih banyak untuk membaca daripada daftar panjang isim, dan huruf hijaiyah, jika belum Anda kuasai, butuh waktu berminggu-minggu, bukan bertahun-tahun.

Kata-kata yang sudah Anda ucapkan adalah sebuah pintu. Kata-kata itu bukan ruangannya.

Dua puluh dua kata bahasa Arab yang sudah pernah Anda dengar, dalam bentuk tulisan

Setiap kata ini mungkin pernah Anda ucapkan atau dengar. Berikut ejaannya, arti harfiahnya, dan situasi yang sebenarnya memunculkannya. Bacalah kolom arti harfiahnya: di sanalah tata bahasanya bersembunyi.

  1. 1 · Kalimat syarat: إِنْ شَاءَ ٱللَّٰه — jika Tuhan menghendaki
  2. 2 · Yang menoleh ke belakang: مَا شَاءَ ٱللَّٰه — apa yang telah Tuhan kehendaki
  3. 3 · Yang terus-menerus Anda ucapkan: اَلْحَمْدُ لِلَّٰه — segala puji milik Tuhan
  4. 4 · Sebelum memulai: بِسْمِ ٱللَّٰه — dengan nama Tuhan
  5. 5 · Keheranan: سُبْحَانَ ٱللَّٰه — Maha Suci Tuhan
  6. 6 · Permohonan ampun: أَسْتَغْفِرُ ٱللَّٰه — aku memohon ampun kepada Tuhan
  7. 7 · Salam: اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ — damai atas kalian
  8. 8 · Jawabannya: وَعَلَيْكُمُ ٱلسَّلَام — dan atas kalian, damai
  9. 9 · Yang penuh kasih: حَبِيبِي — kekasihku
  10. 10 · Yang ada di setiap lagu: يَلَّا — ayo; mari
  11. 11 · Titik penutup: خَلَاص — cukup; sudah selesai
  12. 12 · Sumpah: وَٱللَّٰه — demi Tuhan
  13. 13 · Selamat: مَبْرُوك — diberkahi
  14. 14 · Terima kasih: شُكْرًا — terima kasih
  15. 15 · Sama-sama: عَفْوًا — maaf
  16. 16 · Selamat datang: أَهْلًا وَسَهْلًا — sebagai keluarga, dan dengan leluasa
  17. 17 · Doa berkah: بَارَكَ ٱللَّٰهُ فِيك — semoga Tuhan memberkahi Anda
  18. 18 · Terima kasih yang berupa doa: جَزَاكَ ٱللَّٰهُ خَيْرًا — semoga Tuhan membalas Anda dengan kebaikan
  19. 19 · Diperbolehkan: حَلَال — diperbolehkan, sah
  20. 20 · Dilarang: حَرَام — dilarang; juga suci
  21. 21 · Selamat pagi: صَبَاحُ ٱلْخَيْر — pagi kebaikan
  22. 22 · Selamat tinggal: مَعَ ٱلسَّلَامَة — bersama keselamatan
Empat ungkapan yang dibangun di atas nama Tuhan, dalam urutan pemakaiannya dalam satu hari
UngkapanSecara harfiahKapan diucapkan
بِسْمِ ٱللَّٰه · bismillāhdengan nama TuhanDi awal. Sebelum makan, menyetir, memulai pekerjaan apa pun.
إِنْ شَاءَ ٱللَّٰه · in shāʼa llāhjika Tuhan menghendakiMenatap ke depan. Tentang apa pun yang belum pasti.
مَا شَاءَ ٱللَّٰه · mā shāʼa llāhapa yang telah Tuhan kehendakiMenoleh ke belakang. Ketika melihat sesuatu yang baik yang sudah ada.
اَلْحَمْدُ لِلَّٰه · al-ḥamdu lillāhsegala puji milik TuhanSesudahnya. Ketika sesuatu telah berjalan baik, dan sebagai jawaban untuk “apa kabar?”.

Apa perbedaan insya Allah dan masya Allah?

Kala, dan karena itu arah. إِنْ شَاءَ ٱللَّٰه mengandung syarat dan menunjuk ke depan, ke sesuatu yang belum terjadi: “Saya akan datang besok, insya Allah.” مَا شَاءَ ٱللَّٰه mengandung fi'il lampau dan menunjuk ke belakang, ke sesuatu yang sudah ada: anak yang sehat, rumah yang sudah selesai, hasil kerja yang baik. Jika sudah terjadi, masya Allah. Jika belum, insya Allah.

Apakah insya Allah berarti tidak?

Tidak secara harfiah, dan biasanya tidak. Artinya “jika Tuhan menghendaki”, dan jika diucapkan apa adanya, ungkapan ini adalah niat dengan syarat yang melekat. KBBI memang mencatat nuansa “belum tentu dipenuhi”, dan ungkapan ini bisa dipakai untuk menolak secara halus, seperti “lihat nanti”. Itu pemakaian, bukan artinya. Anggaplah tulus kecuali nadanya memberi tahu Anda sebaliknya.

Apa arti habibi, dan bolehkah saya mengucapkannya?

Artinya “kekasihku”, dari akar kata ح ب ب ditambah akhiran -ī, “-ku”. Dalam praktiknya, pemakaiannya mencakup segalanya, dari ibu kepada anak, antara dua teman laki-laki, sampai pemilik toko yang menyapa pelanggan. حَبِيبْتِي (habibti) adalah bentuk yang dipakai kepada perempuan. Kata ini aman diucapkan kepada teman dan biasanya terasa hangat; ketahuilah bahwa membuka kalimat dengan kata ini juga bisa menandakan akan datangnya ketidaksetujuan.

Bolehkah non-Muslim mengucapkan insya Allah atau alhamdulillah?

Boleh. Di negara-negara berbahasa Arab, ungkapan-ungkapan ini adalah bagian dari tuturan sehari-hari dan dipakai oleh orang Arab Kristen dan penutur yang tidak religius sama seperti oleh siapa pun. Asal-usulnya religius dan fungsinya sosial. Satu-satunya kesalahan yang sebenarnya adalah memakai salah satunya dalam situasi yang keliru.

Bagaimana menjawab assalamualaikum?

وَعَلَيْكُمُ ٱلسَّلَام, wa ʻalaykumu s-salām, “dan atas kalian, damai”. Jawabannya membalik salam itu, bukan mengulanginya, dan itulah sebabnya jawabannya baku. Ada bentuk yang lebih panjang yang menambahkan “dan rahmat Tuhan serta berkah-Nya”, dan menjawab salam yang panjang dengan yang lebih panjang dianggap sebagai sopan santun yang baik.

Apakah mengenal kata-kata ini berarti saya sudah tahu sedikit bahasa Arab?

Sedikit, dan ada baiknya tepat tentang bagian yang mana. Anda memiliki puluhan ungkapan dengan situasinya yang melekat, ditambah kata serapan yang Anda pakai setiap hari: kosakata yang nyata, dan bahan yang ideal untuk mulai membaca, karena kata-katanya sudah akrab. Yang biasanya belum Anda miliki adalah tata bahasa yang menggabungkan kata-kata menjadi kalimat. Itulah separuh yang hilang, dan itu separuh yang lebih kecil.

Sumber

Tentang Fasaha

Fasaha adalah aplikasi belajar bahasa Arab yang dibangun di sekitar membaca bahasa Arab asli, bukan menghafal kata-kata lepas. Fasaha berjalan di iPhone, iPad, Mac dan Android, dan antarmukanya tersedia dalam bahasa Inggris, Arab, Turki, Rusia, Uzbek, Spanyol, Prancis, Jerman, Indonesia, Melayu, dan Urdu.

  • Setiap kata bahasa Arab di aplikasi ini bisa diketuk: arti, akar kata dan wazannya terbuka di tempat, tanpa meninggalkan baris yang sedang Anda baca.
  • Kamusnya menampilkan akar kata yang menjadi dasar sebuah kata, sehingga kata yang Anda cari datang bersama keluarganya.
  • Kata dan baris yang Anda simpan kembali untuk diulang, dan itulah yang mengubah sekali pencarian menjadi kosakata.
  • Bahasa Arab fusha, ragam tulis. Fasaha tidak mengajarkan dialek lisan.